Web/Detail Opd

MUSEUM ASI MBOJO

Oleh : Admin Pemerintah Kota Bima    Tanggal 05-12-2018 MUSEUM ASI MBOJO

PESONA ISTANA BIMA (ASI MBOJO)

  1. Riwayat dan Sejarah

                Istana Bima (Asi Mbojo) yang sekarang telah menjadi  Museum Bima merupakan monumen fisik terakhir kerajaan Bima. Bangunanya masih tampak anggun meskipun telah melintasi waktu yang cukup panjang. Bangunan ini semata-mata bukan sebagai pusat pemerintahan di masa lalu tapi sekaligus merupakan lambang identitas sebuah bangsa. Menurut sejarah, dari istana inilah, bendera merah putih pertama kali berkibar di Bima.

                Istana atau dalam bahasa Bima mulai dikenal oleh masyarakat Bima pada sekitar abad ke 11 Masehi. Menurut mitos setempat, Istana yang pertama sekali dibangun yaitu istana kaca pada masa pemerintahan Raja Indra Jamrud. Begitu juga Sultan Abdul Hamid membangun istana yang sama yaitu Asi Saninu (istana kaca). Selanjutnya, Sultan Ismail membangun Asi Mpasa (Istana lama) pada tahun 1820 M. Sementara Asi Ntoi dibangun di era pemerintahan Raja-raja dan Sultan Bima yang disaksikan sampai sekarang yaitu istana-istana yang terletak berdampingan  dengan Asi Bou dan Asi Mbojo.

                Asi Bou (Istana Baru) semula merupakan bangunan darurat untuk tempat tinggal sementara Sultan Muhammad Salahuddin dan keluarganya selama Asi Mbojo dalam pembangunan.

                Istana Bima adalah bangunan eksotik bergaya Eropa. Istana ini mulai dibangun tahun 1927. Perancangnya adalah arsitek kelahiran Kota Ambon bernama, Rahatta. Beliau diundang oleh pemerintah kolonial Belanda ke Bima. Dalam menyelesaikan pembangunan Rehatta dibantu oleh Bumi Jero  Istana hingga rampng pada tahun 1929. Pembangunan Istana dapat diselesaikan  dalam waktu tiga (3) tahun dan di iresmikan pada saat itu juga.

                Istana tersebut berupa bangunan permanen berlantai dua yang merupakan paduan arsitektur asli Bima dan Belanda. Pembangunannya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat ditambah pembiayaan dari anggaran belanja kesultanan.

                Istana dengan sendirinya menjadi bangunan yang paling indah dan megah pada masa kesultanan. Luas halamannya 500 meter persegi. Kala itu seputar istana tumbuh pohon-pohon rindang dan taman bunga yang indah. Bangunan istana diapit oleh dua pintu gerbang Timur dan Barat yang senantiasa dijaga oleh anggota pasukan pengawal kesultanan.

                Konsepsi tata letak bangunan istana tidak jauh berbeda dengan istana lain di tanah air. Istana menghadap ke Barat. Di depannya terapat tanah lapang atau alun-alun namanya serasuba.  Disinilah Raja tampil secara terbuka di depan rakyat di saat-saat tertentu, misalnya waktu kesultanan menyelenggarakan upacara-upacara penting atau perayaan hari besar keagamaan. Serasuba juga menjadi arena latihan pasukan kesultanan. Di sebelah alun-alun terdapat sebuah bangunan mesjid sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan Islam. Kini mesjid itu bernama mesjid Sultan. Tanah lapang berbentuk segi empat                                                   (mendekati bentuk bujur sangkar). Satu sisi bersebelahan dengan bangunan mesjid, dan sisi lain menyatu dengan halaman istana. Jelaslah bahwa bagunan istana, alun-alun dan mesjid merupakan satu-kesatuan yang utuh.

                Untuk  memberi kesan sebagai bangunan monumental, istana bisa dipandang dari empat penjuru angin. Tampaknya pembangunan istana memperhatikan konsep filosofi sebuah istana yang di dalamnya menyiratkan kesatuan unsur pemerintahan, agama dan rakyat.

                Pintu gerbang sebelah Timur Lawa Kala atau Lawa Se merupakan pintu masuk bagi anggota Sara Hukum dan Ulama. Pintu masuk bagi anggota keluarga berada di belakang Asi, bernama Lawa Weki. Di depan Asi bagian Barat terdapat beberapa Meriam kuno dan tiang bendera setinggi 50 meter terbuat dari kayu jati Kasipahu dari Tololai. Tiang bendera tersebut dibangun oleh Sultan Abullah terpaksa membubarkan angkatan lainnya karena tiak mau memenuhi keinginan penjajah Belanda yang memaksa angkatan laut kesultanan Bima untuk menyerang pejuang-pejuang Gowa-Makasar dan Bugis.

                Tiang Kasipahu sempat roboh karena lapuk. Tahun 2003 dibangun kembali atas inisiatif Hj.  St Maryam R. Salahudin. Bahannya bukan jati tololai karena jati di sana tidak ada lagi tapi merupakan jati kelas satu di Wawo, Bima.

                Di sebelah Selatan Asi, berdiri sebuah mesjid kesultanan yang megah dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid tahun 1872 Masehi. Mesjid yang bersejarah tersebut pernah hancur dibom oleh sekutu pada perang Dunia Kedua.

                Pintu masuk Asi/Istana melewati serambi Utara. Serambi ini pada masa lalu dipergunakan untuk menerima tamu-tamu dalam jumlah besar dan untuk upacara penerimaan arak-arakan ua pua. Tetapi kini serambi tersebut berfungsi sebagai ruang pengenalan dan tempat penyimpanan patung-patung batu yoni menhir dan batu-batu bertulis peninggalan zaman Hindu yang berkembang di Bima hingga abad XVI.

                Dari serambi utara kita menuju ruang Saro Na’e yang dulu berfungsi sebagai tempat musyawarah Majelis Hadat pada tiga hari besar kesultanan. Kini ruangan tersebut menjadi tempat menyimpan data-data geologi, demografi, data-data for a dan fauna di Bima.

                Lewat pintu masuk dekat tangga, kita memasuki ruangan yang pernah berfungsi sebagai tempat untuk Doho Sara Bumi Na’E-Ngeko yaitu Syara Hukum Islam. Ruangan itu kini menjadi tempat visualisasi alat-alat untuk bertani, beternak, berburu dan menangkap ikan masyarakat awam. Ari ruang ini kita menuju ke kantor istana. Di ruang ini pula Bumi Parisi menulis BO (catatan lama menyangkut sangaji  dan segala sesuatu yang  berkaitan dengan hadat).  Saat ini ruangan tersebut  menjai visuaisasi bagan organisasi masyarakat baik di kota maupun di desa selama masa pemerintahan kesultanan serta alat-alat kelengkapan upacara hadat, perkawinan dan penerima tamu.

                Bersebelahan dengan kantor istana adalah ruang tamu Sultan dan juga pernah dijadikan kamar putra Sultan. Di kamar ini diatur siasat menghadapi penudukan NICA setelah masa kemerdekaan. Sekarang ruangan tersebut digunakan untuk memperagakan benda-benda yang berhubungan dengan kegiatan upacara adat dan upacara kebesaran lain.

                Ruangan berikutnya adalah bekas ruangan tidur tamu-tamu kesultanan dan sekarang dipergunakan untuk peragaan benda-benda daur kehidupan. Keluar dari ruangan tersebut kita melewati koridor istana. Di sini diperagakan perabot dapur tradisional. Setelah koridor kita memasuki ruang besar yang pernah berfungsi sebagai ruang makan keluarga sultan. Tetapi kini ruangan tersebut menjadi tempat peragaan alat-alat terkhnologi tradisional di bidang pertenunan, perladangan, pertukangan dan gerabah serta kesenian.

Keluar dari ruangan besar tersebut kita menuju ke kamar tatarapang yang ulu berfungsi sebagai tempat benda-benda sakral dan senjata-senjata. Ruangan ini kini menjadi tempat naskah-naskah dengan pelbagai aksara, termasuk aksara Bima, naskah-naskah penelitian dan perpustakaan museum. Lantai atas ( kedua) dahulu berfungsi sebagai kamar tidur, kamar kerja, kamar keluarga dan ruang santai keluarga sultan.

 

  1. KOMPLEKS DAN BENDA - BENDA KOLEKSI MUSEUM ASI MBOJO

Jumlah benda pusaka peninggalan Kesultanan Bima, amat banyak jumlah dan jenisnya. Semua benda pusaka tersebut sudah terdaftar sebagai Benda Cagar Budaya. Dalam kesempatan ini, yang dibuat sinopsisnya hanya terbatas pada jenis - jenis barang pusaka sebagai berikut :

  1. Istana Kayu

Istana ini terletak di samping Timur Istana Bima (Sekarang Museum Asi Mbojo). Di namakan Asi Bou karena didirikan belakang seterlah didirikan Istana Bima pada Tahun 192, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Ibrahi (1881-1936). Asi Bou di bangun untuk Putera Mahkota Muhammad Salahuddin.

  1. Mesjid Sultan Muhammad Salahuddin

Mesjid yang terletak dikampung Sigi atau disebelah Selatan lapangan Serasuba ini adalah bukti sejarah keemasan Kesultanan Bima pada masanya. Mesjid ini di bangunan oleh Sultan Abdul Kadim Muhammad Syah dengan Wajir Ismail pada tahun 1337.

  1. Serasuba

Tanah lapan itu memang bernama Serasuba. Sera berarti tanah lapang. Sedangkan Suba secara harafiah berarti tombak yang dikonotasikan dengan perintah atau titah. Jadi Serasuba adaklah sebuah tanah lapang tempat memberiakn perintah yang dilakukan para Raja dan Sultan Bima secara turun temurun.

  1. Keris Samparaja

Keris ini dibuat sekitar abad ke-16 pada masa pemerintahan Indera Zamrud dan digangangnya terdapat ukiran Sang Bima. Terdapat enam lagi keris tatarapang istimewa yang semuanya terbuat dari emas. Keris tersebut meliputi dua keris Jena Teke ( putera mahkota) dan empat lagi berasal dari Reo NTT yang merupakan salah satu daerah kekuasan kerajaan Bima.

  1. Tombak dan Songgi berlapis Emas

Terdapat lima buah tombak dan delapan buah sondi ( pedang khas Bima ) yang merupakan koleksi museum Asi mbojo). Ada yang bermata dua dengan tamgkai emas, sepanjang tiga belas ruas. Sarungnya ter buat dari perak. Sondi adalah senjata jabatan untuk pejabat yang mempunyai pasukan ( komandan laskar ).

  1. Parang sakti “la Nggunti Rante”

Menurut BO ( Naskah kuno Kerajaan Bima ) parang ini dibuat pada abad ke-14 yaitu pada masa pemerintahan Batar Indera Bima. La Nggunti Rante merupakan golok pendek dengan panjang 25 cm dan lebar 10 cm. Parang atau golok ini memiliki kesaktian jika digunakan disaat-saat genting pada masa kejayaan Kerajaan dan Kesultanan Bima. Dijuluki la Nggunti Rante karena konon dapat memotong apa saja termasuk baja dan besi.

  1. Perangkat Kebesaran Sultan

Yaitu beberapa jenis barang yang akan diterima dan dipakai oleh Sultan, sesuai “ Tuha Ro Lanti” ( dilantik dan dinobatkan ) menjadi Sultan, yang terdiri dari:

  1. Mahkota, yang oleh masyarakat disebut “Songko Masa” ( Songko Emas ) yang dibuat dari emas serta dihiasi dengan intan berlian dan permata yang mahal. Sebagai simbol kecerdasan dan kecermelangan nalar Sultan.
  2. Samparaja, yaitu keris pusaka, yang sarung dan hulunya, dibuat dari emas serta dihiasi dengan intan berlian dan permata, sebagai simbol kejantana serta keberanian Sultan dalam membela serta melindungi rakyat dan negerinya.
  3. Paju Ro’o Ta’a ( Payung Daun Lontar ), yang artinya Paju=payung, Ro’o=daun, Ta’a=lontar, adalah payung kebesaran yang dibuat dari daun lontar, yang padea pucuk serta pinggirnya berhiaskan emas merupakan simbol Sultan yang berperang untuk “ melindungi dan mengayomo” rakyat dan negerinya. Dalam kesehariannya Sultan di panggil “Hawo Ro Ninu” yang berarti” pengayom dan pelindung”.
  1. Tatarapa

Tatarapa yang berarti keris untuk para pejabat Kesultanan. Jum;ah dan jenisnya beragam, disesuaikan dengan jenjang atau tingkat jabatan pejabat.

  1. Buja ( Tombak )

Jumlah dan jenisnya cukup banyak, ada berbhiaskan emas dan perak pada sarung dan hulunya.

  1. Benda-benda perhiasan dari emas dan perak yang dihiasi dengan berlian dan permata yang mahal. Jumlah dan jenisnya cukup banyak.
  2. Perabot Rumah Tangga, seperti cerek, teko, kendi dan kobokan, pada umumnya dibuat dari emas dan perak. Semua barang pusaka penbinggalan Kesultanan, ada yang menjadi milik pribadi keluarga Sultan, dan ada pula yang mernjadi pengawasan pemerintah. Benda-benda pusaka yang berada di tangan pemerintah, sejak tahun 1996 disimpan di ruangan tetap Museum Asi Mbojo Bima. Dan pada akhir-akhir ini ada beberapa jenis barang pusaka tersebut, yang tidak ada dilemari pameran, selain itu ada pula uyang sudah diragukan keasliannya. Kasus ini sedang dalam proses penyelidikan dari pihak yang berwajib.

Berita Terkini



Berita Terpopuler



Statistik Pengunjung


Hari ini :   74  
Kemarin :  92 
Bulan Ini :  380 
Tahun Ini :  932 
Total :  2530 
Hist Count : 3